Sabtu, 29 Februari 2020

*Catatan perjalanan 7

Seingatku, aku tidak pernah terlalu percaya pada orang, apalagi sampai mengandalkan orang lain. Kenapa ?
Begini ceritanya

Satu ketika selesai atletik di stadion olah raga, aku pulang bersama seorang teman setelah memastikan ia memahami arah pulang. Dengan sepenuh keyakinan, ia menyatakan bahwa ia sangat hafal dan paham harus naik angkot yang mana. Nyatanya kami naik angkot dengan arah yang salah. Setelah lama berkeliling supir menyuruh kami turun sementara tempat itu bukan tujuan kami. Karena ongkos yang tersisa hanya cukup untuk sekali perjalanan, aku menolak untuk turun, begitu juga temanku. Akhirnya sang supir bersungut – sungut merutuki kami yang tidak tahu diri. Bersyukur kami tidak diturunkan di tengah jalan. Tidak apa menyabari diri mendengarkan celoteh tak bersahabat dari pak supir.

Tidak ada kata maaf dari temanku yang telah membuat kami tersesat. Aku menatapnya, tepatnya memelototinya guna meminta pertanggungjawaban. Terpaksa harus menikmati perjalanan 3x lebih lama dari yang seharusnya, gegara aku percaya pada orang yang sok tahu. Dan yang bersangkutan tidak merasa bersalah sedikitpun. Aku hanya bisa memaki dalam hati, berteriak sendiri menghalau deru debu yang memenuhi jalan. Saat itu kutanamkan dalam hati bahwa cukup sudah percaya pada orang yang salah, takkan ku biarkan hal bodoh seperti ini terulang lagi.

Sejak kejadian itu, aku benar – benar mengandalkan diriku saja. Mencoba bertanya dan mengumpulkan informasi tentang suatu tempat jika aku harus pergi ke tempat yang baru. Mulai memilih siapa yang pantas dipercaya dan mana yang tidak. Alhasil aku mulai pilah pilih teman. Hanya yang amanah dan bertanggungjawab saja yang rela aku bersamai, berlama – lama dengannya. Sementara yang lalai dan abai hanya sekedar kenal saja. Enggan rasanya jika harus menderita karena kelalaian orang.

Di sini juga aku mulai mengenal istilah bisa memaafkan tapi bekas luka akan sulit membuatku lupa. Apa akibatnya ? Orang – orang yang pernah berbuat salah akan dimaafkan dan tetap aku temani, hanya saja kesalahannya tidak bisa dilupakan, selalu menjadi catatan yang membatasi. Hasilnya, semasa SMA dan kuliah, yang sangat intens menemani curhatan dan celotehanku adalah ibu juga buku diari. Selesai.


#aJourneyToFourty

Tidak ada komentar:

Posting Komentar