Menjadi guru adalah keseluruhan profesi bagiku. Menjadi dokter, perawat, psikolog, polisi, detektif, jaksa, pembela, hakim, manager, dan aneka profesi lain bagi murid – muridku.
Menjadi dokter atau perawat saat mendengarkan keluh sakit mereka atau membantu mereka minum obat selepas makan siang. Menjadi seorang psikolog saat mendengarkan keluh kesah dan curahan hati mereka tentang banyak hal.
Cerita tentang harapan mereka untuk bisa bermain bersama ayah dan ibu yang selalu sibuk bekerja. Keluhan tentang adik atau kakak mereka yang suka jahil. Atau kisah tentang mereka yang mulai merasa tertarik dengan teman laki – laki atau perempuan. Mencurahkan rasa galau saat bertemu pandang. Rasa rindu, rasa takut kehilangan, dan rasa – rasa yang lain. Protes mereka akan ulah iseng teman sekelas. Atau pandangan sinis teman lain kelas, bahkan cemooh dari kakak kelas. Ah, sungguh banyak yang mereka ceritakan.
Untuk memerankan seorang psikolog yang baik, aku harus bisa menata hatiku agar telinga ini tidak lelah mendengar celoteh puluhan muridku. Di tengah kesibukan mengajar di dalam kelas, di sela – sela tugas koreksi dan tumpukkan laporan penilaian lainnya aku masih harus menyediakan waktu untuk murid – muridku. Yah, untuk mendengarkan keluh kesah mereka. Ada sedih dan gembira. Juga ada pilu, saat ku dengar kerinduan dari bibir mungil muridku,
“Aku sedih, bu. Saat ini ayah sedang tugas di Surabaya dan Lebaran nanti ayah akan ke pergi ke India, langsung dari Surabaya. Aku kangen sama ayah. Masa Lebaran nanti aku lewati tanpa ayah … hu..hu..hu”.
Basah hati ini. “Nak … semoga Allah memberi kekuatan padamu untuk melewati semua ini. Do'akan yang terbaik untuk ayah mu. Semoga Allah memberi yang terbaik untuk kamu sekeluarga”. Hanya itu yang mampu ku katakan seraya memeluknya erat serta menghapus bening yang membasahi wajahnya.
Dengan menjadi guru, aku bisa berperan sebagai penegak hukum. Menjadi polisi saat menginterogasi mereka yang tertangkap tangan melakukan kenakalan seperti mengambil barang milik teman, menyembunyikan sepatu, buku, dan lain – lain. Menjadi detektif saat memecahkan kasus misterius yang tidak ketahuan siapa pelakunya. Menjadi jaksa saat menuntut pertanggungjawaban atas pelanggaran yang sudah mereka lakukan. Menjadi pembela di kala tuntutan orang tua sangat berlebihan dan menjadi hakim saat memutuskan solusi permasalahan yang tidak melulu soal akademis.
Berperan sebagai manager saat mengelola mereka di dalam kelas, luar kelas bahkan saat membantu mendisiplinkan mereka tentang kebiasaan saat di dalam rumah, melalui sebuah lembar kontrol.
Menjadi guru, sungguh sebuah profesi all in one, setidaknya itu yang aku rasakan. Melibatkan segenap akal, jiwa, raga jua rasa. Sungguh berat sekaligus indah. Banyak sekali modal yang harus ku miliki, terutama modal keberanian untuk terus mau belajar, belajar dan belajar.
Banyak hal yang perlu dan harus aku pelajari. Secara pribadi, aku perlu memiliki pribadi seorang guru yang layak untuk digugu dan ditiru. Tetap bisa tersenyum ceria di hadapan murid – muridku walau masalahku juga menggunung, tumpukan pakaian kotor serta setrikaan yang menumpuk karena ditinggal pergi oleh pembantu. Harus selalu prima meski asap dapur kian kabur. Perlu tetap mempesona walau lelah terasa mendera.
Lalu dengan ketrampilan mengajarku, wawasan keilmuanku. Ah, sungguh banyak yang terus harus aku pelajari. Zaman kian bertambah canggih, tantangan murid – muridku di masa yang akan datang kian besar dan banyak. Mereka bukan hanya bersaing dengan rekan – rekan satu negara, melainkan juga di seluruh dunia. Sangat egois kalau aku hanya membekali mereka dengan pengetahuanku yang apa adanya.
Aku harus banyak merogoh kocek untuk mendatangkan om internet ke rumahku, agar aku tidak ketinggalan berita. Bisa terus mengupdate informasi tentang dunia kerjaku. Berhubungan dengan teman seprofesi di kota lain agar bisa banyak berbagi. Supaya aku tidak seperti katak dalam tempurung. Atau hanya sekedar memeriksa komunikasi para muridku di dunia maya.
Selanjutnya tentang pemahamanku pada anak – anak didikku. Memahami pribadi mereka, keinginan – keinginan mereka, kebutuhan mereka serta segala sesuatu tentang bagaimana mereka belajar, berteman dan berinteraksi dengan lingkungannya. Sangat naif kalau aku merasa puas dengan bekal pengetahuan yang ku dapat saat kuliah dulu. Nyatanya, aplikasi pengajaran di lapangan tidak selalu sama dengan teori yang banyak dirumuskan buku – buku atau diktat saat kuliah dulu.
Ibuku yang bijak itu pernah berpesan padaku, “Anak – anak zaman sekarang tidak seperti zaman ibu kecil dulu. Mereka serba lebih. Lebih banyak tanya, lebih banyak melawan, lebih kurang sopannya, dan lebih – lebih yang lain. Kalau kamu mau jadi Guru, kamu harus banyak belajar, yaa … Jangan menyerah bila bertemu anak yang sulit. Kenali secara dekat murid – muridmu maka mereka akan mendekat padamu sehingga kamu mudah mendidik mereka. Terima mereka, bawa mereka dalam do'a – do'amu. Serahkan permasalahan mereka pada Yang Maha Kuasa, Allah Subhanahuwata'ala ”.
Terima kasih ibu. Nasihat itu sangat membekas dalam hatiku.
Soal cara mengajar. Aku ingat waktu sekolah dulu beberapa kebiasaan guruku yang biasa menjadi bahan ejekan teman – teman. Ada guru yang sangat text book. Ada yang selalu berdehem setiap hendak bicara. Ada yang suaranya sangat pelan, hingga kami yang duduk di bangku depan hanya mendengar samar, jadi wajar kalau ada seorang temanku yang sampai terlelap. Ada yang selalu memberi tugas merangkum di setiap pelajaran, jadi kata – kata yang keluar darinya hanya beberapa saja seperti : “ ayo sekarang buka buku halaman … dirangkum sampai halaman … Latihannya buat PR ya “. Syukur siswa di kelas IPA tidak banyak yang berubah haluan menjadi seniman karena terlalu sering menulis … membuat rangkuman.
Tentunya aku ingin menjadi guru yang terbaik untuk murid – muridku. Dan aku tahu butuh banyak tekad juga pengorbanan untuk mencapainya. Ya, Allah, kuatkan tekad hamba sehingga tak mudah patah. Aamiin.
Teruntuk para pejuang pendidikan ...
Terus semangat hingga akhir perjuangan.
Bogor, 13 November 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar