Kamis, 23 September 2010

Sebentuk Cinta


Dear diary, hari ini aku pakai baju pink … seperti hatiku yang juga begitu. Terasa begitu manis dan romantis,

Adalah sebentuk cinta

lama tersimpan dalam dada

Hanya sebentuk cinta

di tinggal sang empunya

Kini hadir kembali ia

menyapa dengan sebentuk cinta.

Di, kenapa ya mesti hadir kembali rasa cinta ini ? Kenapa sih mas Pram mesti kembali hadir dalam hidup aku, padahal aku sudah berusaha menjauh.

Kamu tahu mas Pram khan?

Itu loh … kakak kelasku saat kuliah dulu. Cowok paling tenar seantero kampus. Cowok yang baik banget dan perhatian sama aku.

Karena perhatian dan kasih sayang yang ia berikan, aku sempat berfikir bahwa ia akan menjadi suamiku .. Ge Er ??

Kasihan ya aku. Ternyata mas Pram menikah dengan wanita yang jauh lebih sempurna dari aku yang cuma gadis ndeso.

Sakit hati ?? Ya, ndak lah … Aku berbahagia karena mas Pram ku dapat wanita yang memang layak menjadi pendampingnya. Aku aja yang ke – Ge Er – an, he … he …

Lepas kuliah, aku tinggalkan Yogya juga kenangan ku bersama mas Pram. Aku khawatir akan perasaanku. Aku khawatir tak sanggup melihat kebahagiaan mas Pram ku. Dengan restu orang tuaku, ku tinggalkan Yogya menuju hiruk pikuk kota Jakarta.

Kini, lima tahun berlalu. Hidup seorang diri di kota ini membuat aku mampu tuk melupakan perasaan ku pada mas Pram, sebuah kisah ironi. Bagai pungguk merindukan bulan. Aku yang masih sendiri ( bukan karena mas Pram loh ), kini bisa di bilang mapan. Pekerjaan cukup menyenangkan, tinggal melanjutkan langkah selanjutnya. Amanah ibu dan bapakku … menikah, Di.

Semua tampak lancar, sampai sebulan lalu ada informasi bahwa ada mutasi di lingkup manajemen perusahaan, atasanku dipindah dan akan digantikan dengan orang baru. EGP, emang gue pikirin … yang penting kerja sesuai prosedur peduli amat siapa atasanku.

Ternyata, tidak begitu adanya. Kamu tahu siapa atasan baru ku ?

Seseorang dari masa lalu ku. Mas Pram. Betul, mas Pram atasan baruku. Aduh, Di …. ternyata selama ini aku bekerja di perusahaan yang sama. Hanya saja beda kota. Astaghfirulloh.

Saat aku tahu kalau mas Pram akan jadi atasanku, aku tekadkan dalam hati bahwa tidak akan terjadi apa – apa dengan hatiku. Perasaan yang dulu ada telah tertutup rapat dan tidak akan ku buka lagi. Apalagi aku harus konsentrasi dengan proses ta'arufku. Uups, aku belum kasih tahu kamu ya, Di. Ada balasan proposalku. Kata mba Diana proses bisa dilanjutkan. Pekan depan aku mau ta'arufan, .. good news khan Di ?

Dua pekan lalu, atasan baruku tiba. Mas Pram masih seperti dulu. Penuh kharisma. Aku bersama karyawan lain ikut dalam acara lepas sambut pimpinan baru kami. Acara berlangsung formal, Alhamdulillah ga terjadi apa – apa, Di … Aku ga deg – degan ketemu sama mas Pram, biasa aja.

Eit, tapi tunggu dulu. Usai acara berlangsung, setelah Kami kembali beraktivitas tiba – tiba line telepon di mejaku berbunyi. Dari mas Pram. Aku diminta menghadap ke ruangannya. Pastinya aku harus segera menghadap.

“ Assalamu'alaikum

“ Wa'alaikum salam. Ayu silakan masuk. Duduk Yu. “

Ayu ? Atasan ku yang dulu selalu memanggil kami dengan ibu atau bapak, kenapa beliau panggil aku Ayu ? Khan seharusnya bu Ayu. Tau deh,

“ Iya, Pak. “ Ku jawab seraya menuju tempat duduk yang ditunjuk mas Pram.

“Yu, kamu tampak makin anggun aja.” mas Pram mengawali pembicaraan.

Haa ? Ngga salah denger nih ? Duh, Alloh kuatkan hamba. Jangan biarkan hamba terbawa rasa.

“Maaf, Pak. Ada yang bisa saya bantu ? Saya masih banyak pekerjaan.” Sekuat hati ku abaikan komentar mas Pram.

“Yu, Yu … kamu kok formal banget sih ? Lupa toh sama aku, mas Pram mu ?”

“ Nda, Pak. Saya … “

Begitulah. Kami bicara panjang lebar. Awalnya tentang pekerjaan. Lalu keluarga mas Pram. Ia telah punya 2 orang balita. Mba Dewi, istrinya, kini tengah hamil tua jadi tidak diajak pindah sampai melahirkan nanti.

“ Yu, kamu ndak usah rikuh gitu sama mas mu. Kalau ada apa – apa kasih tahu aku. Ini nomor PIN BlackBerry aku, kamu add ya … Sudah sekarang kamu boleh kembali ke mejamu. “

“Iya, Pak.” Aku terima begitu saja perintah atasanku itu.

Aduh, Di … sebel .. sebel .. sebeeel ..

Laki – laki tuh memang gitu kali ya. So' care … Ndak mikir apa kalau sikap mereka tuh bisa mengundang aneka rasa. Astaghfirullahal 'azhiim. Ya Allah, bantu hamba untuk bisa menahan rasa itu.

***

Wah, Di … lusa mau ta'arufan, di rumah mba Diana. Aduh... jadi gugup nich. Mau tanya apa aja ya ???

Trus kira – kira dia mau tanya apa sama aku ya ???

Penasaran deh.. Tapi hari ini aku harus minta izin sama mas Pram, agar lusa bisa pulang cepat karena mau langsung ke ruman mba Diana. Moga lancar. Bismillah.

***

“Waduh Yu … sepertinya lusa kamu ndak bisa izin pulang lebih cepat. Lusa akan ada tamu dari rekanan kita untuk membahas capaian target proyek kerjasama kita. Kemungkinan akan sampai sore sekitar pukul 18.00” mas Pram menjelaskan.

Ya Allah … jam 6 sore ??? Perjalanan dari kantor ke rumah mba perlu waktu 2 jam. Aku mau ta'aruf jam 18.30. Pliz dech.

“ Mmh ... tapi Pak semua laporan perkembangan proyek kan sudah selesai saya buat dan sudah Bapak tandatangani. Artinya tanggung jawab saya sudah terpenuhi, Pak. Tentang menemani tamu kan bukan kewajiban saya, Pak. Apalagi asisten Bapak dalam proyek ini kan Pak Akbar. Tolong, Pak … kalau tidak penting saya tidak akan minta izin.” Aku mencoba berargumen.

“ Ya, saya tahu itu. Tapi saya ingin kamu yang menemani saya. Saya harap acara penting kamu bisa menyesuaikan. Oh, ya memang acara apa sih ?” mas Pram bertanya.

Astaghfirullah... kenapa harus aku ???

“Begini Pak … ini semua tentang masa depan saya. Mmmh … Saya akan .. Saya mau bertemu ... saya ...” Ragu untuk meneruskan.

“Apa Yu ?”

“Mmh … saya mau ta'aruf Pak” Jawabku tertunduk malu.

Sejenak suasana menjadi hening. Ku lihat dari sudut mataku sosok mas Pram terpaku di balik meja besarnya, menatapku. Ia menarik nafas panjang kemudian berkata :

“Yu … jadi kamu mau ta'aruf ya ? Kalau begitu baiklah kamu saya izinkan.”

“Terima kasih, Pak ….” Ucapku seraya menatap tak percaya.

Mas Pram tersenyum,

“Senang melihat binar itu di matamu, Yu...”, katanya.

Di, aku tambah deg degan nich, Ga nafsu makan. Rasanya ingin segera esok datang. Tunggu ya, Di … ada message.

Asslamu'alaikum Ayu … sedang apa ? Pasti lagi deg – degan untuk acara besok ya ?

Mas Pram … ngapain lagi nih orang. Ndak jelas. Ya iyalah deg – degan, kaya ndak pernah ngalamin aja.

Wa'alaikum salam Pak. Iya nih deg – degan. Do'akan saya ya Pak … moga semua lancar dan saya bisa mendapatkan pasangan hidup saya untuk menjalankan biduk rumah tangga seperti mas Pram dan mba Dewi.

Ayu … saya senang dengan kebahagiaan kamu. Tapi Ayu, tiba – tiba saya merasa sedih karena saya merasa akan kehilangan kamu. Saya …

Sebenarnya sejak dulu saya menginginkan kamu jadi pendamping hidup saya, tapi takdir menentukan lain. Saya … ah, sudahlah. Selamat bersiap menjelang bahagiamu, Ayu. Aku kan slalu mendo'akanmu. Di dalam hatiku kan slalu ada tempat untukmu, Ayu..

Astaghfirullah. Apa sih maksud mas Pram kirim tulisan begini ? Apakah itu berarti bahwa mas Pram memiliki perasaan yang sama denganku saat kami kuliah dulu ? Kalau memang begitu, kenapa ia lebih memilih mba Dewi bukan aku ? Kenapa harus sekarang ia mengatakannya padaku ? Kenapa ia harus menghadirkan kembali semua rasa yang dengan susah payah telah aku pendam. Jahat.

Ya, Allah … hamba mohon padaMU tuk menguatkan hamba.

Terima kasih atas segala perhatian mas Pram … Semoga kita mampu membingkai segenap rasa yang kita punya dalam cinta pada-NYA.

UQ, 23 Februari 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar