Raja seminar, itulah julukan yang diberikan suamiku. Awal mendapat julukan ini aku merasa biasa dan tidak terlalu menghiraukannya. Tapi, kata – kata suamiku semalam, membuat aku jadi berfikir tentang julukan itu.
“Buat apa keluar – masuk ruang seminar. Tentang anak, tentang pendidikan … Apa hasilnya ? Kamu lihat tuh tiga anak kita. Coba fikirkan dan beritahu aku apa yang bisa aku banggakan dari mereka.”
Sebagai seorang ibu, aku merasa terhina dengan pernyataan dan pertanyaan suamiku. Sejenak aku larut dalam rasa sedih dan sakit dalam dada. Namun sesaat kemudian aku coba tuk memikirkan perkataan suami yang aku hormati itu. Perlahan ku hadirkan satu per satu wajah anak – anakku.
Rissa, sulungku yang sangat mandiri. Sudah bisa melakukan ini dan itu, bahkan di usia 5 tahun ia sudah bisa melakukan istinja sendiri setelah buang air besar. Tidak ada yang membuatku khawatir tentangnya, kecuali kecenderungannya untuk bersikap tidak jujur. Rafli, anak tengah yang lahir prematur. Walau berat badan lahirnya hanya 2 kg, Rafli tumbuh dengan wajar dan sehat. Hanya saja ia terlalu aktif dan usil sehingga tidak sedikit orang tua teman sekelasnya juga para tetangga yang komplain pada kami, orang tuanya. Lalu Rifa, anak bungsuku yang sangat pemalu.
Aku merasa tidak ada yang salah pada anak – anakku. Mereka hanya memerlukan perhatian yang berbeda dari aku ibunya juga dari ayahnya. Karena itu aku memerlukan banyak informasi dan pengetahuan. Karena itu aku banyak memburu seminar – seminar tentang anak dan pendidikan. Karena rasa sayang dan cinta yang besar pada anak – anakku, ku tinggalkan dunia kerja yang begitu mempesona sekaligus menyita sebagian besar hariku. Aku tidak menyalahkan anak – anakku, karena memang demikian adanya. Aku menerima mereka dengan bahagia, sebahagia aku menerima pinangan suamiku, waktu dulu.
Hanya saja suamiku tidak pernah tahu. Ia masih beranggapan bahwa tugasnya sebagai seorang suami adalah menafkahi keluarga. Hanya itu, selebihnya adalah tanggung jawab aku sebagai ibu. Sungguh pemahaman yang keliru, menurutku.
Andai ia mau mengikuti satu saja seminar yang aku tawarkan, atau paling tidak membaca satu buku yang aku beli dan koleksi. Tantangan terbesarku bukan hanya anak – anakku, tapi juga suamiku.
“Ma, pagi – pagi dah murung. Semangat dong.” Tiba – tiba suamiku datang dan membuyarkan semua lamunanku. Sepertinya dia sudah melupakan ucapannya semalam tentang anak – anak kami. Padahal … aku masih berusaha menata hati karena kata – katanya semalam.
“Hayo melamun lagi ...”
Terpaksa ku lempar senyum padanya. Semoga manis.
“ Mas ganggu aja, dah sarapan belum ?” Segera ku alihkan perhatiannya agar tak sempat ia bertanya tentang apa yang sedang ku lamunkan.
“Sudah, Alhamdulillah. Mau berangkat pagi ni. Ada janji sama klien.” ujar suamiku seraya merapihkan dasi yang baru selesai ku pasang.
“OK, ada lagi yang perlu disiapkan, Mas ?”
“Hmm...cukup. Do'akan aku ya … “
“Selalu, Mas”
Ya, aku selalu mendo'akan dirimu untuk lebih mau terlibat dalam mengasuh anak – anak kita. Agar aku tidak mengayuh sendiri. Agar …
“Aku berangkat. Assalamu'alaikum ...” Sebuah kecupan hangat mendarat di keningku.
Ku lepas suamiku dengan seulas senyum, termanis yang sanggup ku hadirkan saat itu. Ku tatap hingga jip hitam itu hilang dari pandanganku.
“Wa'alaikum salam warohmatullohi wa barokatuh … Tuhan lindungi suamiku dari tipu daya setan serta dunia dan segala isinya ...”
Tiga bintang kecilku masih terlelap … lepas Shubuh mereka tidur lagi, mungkin lelah karena semalam mereka tidur cukup larut. Menunggu papa, kata mereka.
“ Aku mau menunjukkan gambar yang aku buat di sekolah … aku mau papa melihat gambarku. “ Kata Rissa sulungku yang kini sudah kelas 4. Di sekolah ada tugas membuat karya bertema “My Family”. Rissa sangat menyukai gambar yang ia buat karena mendapat nilai tertinggi di kelasnya.
“ Mba, kakak juga mau ikut menunggu papa sambil nonton kartun.” Rafli menimpali sambil membongkar puzzle yang baru saja ku belikan.
“Mah, ade juga mau nunggu papa ya. Ade kan sayang sama papa.”
Ku pandangi wajah mereka satu per satu. Aku bisa merasakan betapa mereka menyayangi papa mereka. Aku juga tahu betapa mereka sangat rindu akan papanya. Aku jadi merasa iba pada mereka. Sedikit sekali kesempatan yang mereka punya untuk bisa bersama – sama dengan orang yang mereka sayangi, papa.
Duhai Rabb, anugerahkalah ilmu kepadaku sehingga aku bisa memahami anak – anakku. Karuniakanlah kelembutan pada suamiku, agar ia mampu menangkap kerinduan anak – anak kami. Rizkikanlah waktu kepada kami agar bisa menikmati kebersamaan dalam indahnya cintaMU.
UQ, 23 Februari 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar